Jakarta – Anggota Komisi VI DPR RI, Rahmat Saleh, menyoroti besarnya kesenjangan antara target dan realisasi kinerja PT Agrinas Palma Nusantara (Persero).
Kesenjangan yang mencakup aspek operasional maupun finansial tersebut dinilai berpotensi merusak reputasi perusahaan jika tidak segera dibenahi.
Sorotan ini disampaikan Rahmat dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara, Mohammad Abdul Ghani, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (6/7/2026).
Rahmat menegaskan, dua persoalan utama tersebut harus segera diselesaikan agar tidak menjadi beban bagi manajemen.
Rahmat membeberkan sejumlah capaian yang jauh dari target, yakni defisit Tandan Buah Segar (TBS) sebesar 40 persen dan utilitas pabrik kelapa sawit yang mencapai 80 persen.
Dari sisi keuangan, realisasi pendapatan perusahaan hanya menyentuh Rp1,833 miliar dari target Rp5,480 miliar atau defisit sebesar 57 persen.
Menurut Rahmat, selisih angka yang sangat lebar ini mengindikasikan adanya persoalan mendasar dalam tata kelola perusahaan.
Ia mempertanyakan apakah masalah tersebut bersumber dari penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang tidak realistis atau lemahnya eksekusi manajemen di lapangan.
“Saya tidak tahu di mana letak kesalahannya, apakah pada perencanaan RKP atau pengelolaan perusahaan. Namun, kedua hal tersebut merupakan tanggung jawab manajemen,” ujar Rahmat.
Ia menambahkan, di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, publik menaruh harapan besar agar BUMN menyajikan kinerja yang transparan dan realistis.
Rahmat mengingatkan agar perusahaan tidak lagi memberikan target ambisius yang tidak tercapai, karena masyarakat membutuhkan kontribusi nyata dan keuntungan riil dari BUMN.










