Pessel – Pengembangan jagung di Sumatera Barat ditargetkan meningkat signifikan pada 2026.
Anggota Komisi IV DPR RI Rahmat Saleh menyebut luas tanam jagung di provinsi itu bakal naik menjadi 4.000 hektare, dari capaian 2025 yang telah mencapai 3.000 hektare.
Pernyataan itu disampaikan Rahmat saat meninjau langsung pelaksanaan program swasembada jagung di Kabupaten Pesisir Selatan, Minggu (3/5/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat sejauh mana program berjalan sekaligus memetakan potensi perluasan lahan tanam di daerah pesisir tersebut.
Menurut Rahmat, penambahan luas tanam menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan daerah, sekaligus menopang agenda swasembada pangan nasional.
Dia menilai Pesisir Selatan memiliki posisi penting dalam pengembangan komoditas jagung di Sumbar.
Pada 2025, sekitar 800 hektare dari total 3.000 hektare lahan jagung di Sumbar berada di Kabupaten Pesisir Selatan.
Angka itu menunjukkan daerah tersebut menjadi salah satu penyumbang terbesar pengembangan jagung di tingkat provinsi.
“Hari ini kita meninjau langsung realisasi penanaman jagung di Ranah Pesisir. Potensinya luar biasa, sepanjang mata memandang lahan yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan jagung,” ujarnya.
Rahmat menambahkan, masih banyak lahan lain yang dapat dioptimalkan untuk mendukung pencapaian target baru pada tahun mendatang.
Karena itu, ia menekankan pentingnya penguatan koordinasi dengan pemerintah daerah agar program perluasan lahan dapat berjalan lebih efektif.
Ia juga menilai dukungan bagi petani tidak cukup hanya dalam bentuk pendampingan.
Penyaluran benih jagung perlu diperkuat agar produktivitas lahan meningkat dan tanam benar-benar terlaksana di lapangan.
“Bantuan bibit sudah kita dorong, tapi yang lebih penting adalah memastikan penanaman benar-benar terjadi dan berkelanjutan,” katanya.
Rahmat menegaskan, target 4.000 hektare pada 2026 merupakan bagian dari upaya mendukung program swasembada pangan nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut dia, keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada pemerintah pusat, tetapi juga membutuhkan peran aktif pemerintah daerah dan petani.
“Ini bagian dari upaya kita menyukseskan program swasembada pangan yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto,” ucapnya.
Ia menambahkan, kerja bersama menjadi syarat utama agar perluasan lahan tanam di Sumbar benar-benar diikuti kenaikan produksi jagung. Tanpa sinergi antarpihak, target yang telah disiapkan akan sulit tercapai.
“Semua harus berjalan beriringan, tidak bisa sendiri-sendiri, jika kita ingin mencapai target yang telah ditetapkan,” harapnya.