Padang – Pondok Alam Bustanul Qur’an (Rumah Tahfidz) di Kota Padang terus bertahan dan berkembang, dari hanya tujuh santri pada awal berdiri hingga kini mencapai sekitar 140 santri.
Hal itu dikatakan Ketua Yayasan Pondok Alam Bustanul Qur’an saat menerima kunjungan Anggota Komisi IV DPR RI H. Rahmat Saleh pada Jum’at, (1/5/2026) di Kuranji, Padang.
Ia menyebut, lembaga tersebut berdiri pada Januari 2019, sebelum pandemi Covid-19 melanda.
Pada tahun pertama, jumlah santri masih sangat terbatas, namun pembinaan tetap berjalan secara konsisten.
“Awal berdiri hanya tujuh santri. Memang berat, tapi kami tetap istiqamah. Ini semua karena pertolongan Allah,” ujarnya.
Seiring waktu, jumlah santri terus bertambah. Bahkan, sempat mencapai 200 orang.
Meski kini jumlahnya sekitar 140 santri, kegiatan pembinaan tetap berjalan aktif.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas kunjungan Rahmat Saleh ke rumah tahfidz tersebut. Menurutnya, kunjungan itu menjadi yang pertama dari anggota DPR RI.
“Ini sebuah penghargaan bagi kami. Terima kasih sudah mau hadir ke tempat rumah Al-Qur’an kami ini,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Rahmat Saleh tidak hanya melakukan kunjungan, tetapi juga menyerahkan bantuan berupa dana dan beras untuk mendukung operasional Pondok Alam Bustanul Qur’an.
Rahmat Saleh mengungkapkan bahwa membangun dan mempertahankan kegiatan tahfidz bukanlah hal mudah. Ia mengaku memahami tantangan tersebut karena juga mengelola rumah tahfidz di Kota Padang.
“Saya memiliki rumah di Padang yang sejak menjadi anggota DPR RI saya jadikan sebagai rumah tahfiz. Saat ini ada dua lokasi, yakni di Pesona Filano dan kawasan Lubuk Minturun,” ujarnya.
Menurutnya, seluruh kegiatan pembinaan di lokasi tersebut masih disubsidi secara pribadi. Ia juga melibatkan para ustaz dalam proses pembinaan di beberapa titik.
Rahmat Saleh menilai, tantangan ke depan tidak hanya pada penyediaan fasilitas, tetapi juga kesejahteraan tenaga pengajar agar pembinaan dapat berjalan berkelanjutan.
Ia mengapresiasi lembaga yang mampu bertahan dan berkembang hingga ratusan santri. Hal itu dinilai sebagai bentuk konsistensi dalam menghidupkan Al-Qur’an di tengah masyarakat.
“Kalau ingin negeri ini maju, maka hidupkan Al-Qur’an. Tidak hanya dibaca, tetapi juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.