Jakarta – Transformasi sektor pertanian menjadi perhatian utama Anggota Komisi IV DPR RI, Rahmat Saleh, dalam menanggapi berbagai tantangan dan peluang di Kabupaten Solok.
Salah satu inovasi yang didorong adalah program sawah pokok murah, sistem pertanian efisien dengan konsep satu kali tanam yang memungkinkan panen hingga tiga kali.
Menurut Rahmat, sistem tersebut sangat relevan untuk diterapkan di Kabupaten Solok mengingat wilayah ini memiliki lahan pertanian yang luas namun masih menghadapi kendala efisiensi dan pembiayaan produksi.
“Program sawah pokok murah adalah terobosan penting. Dengan biaya rendah, petani bisa mendapat hasil lebih besar. Ini bisa jadi model nasional jika dijalankan dengan serius,” ujar Rahmat Saleh.
Dalam skema ini, petani tidak perlu melakukan tiga kali tanam untuk tiga kali panen, melainkan cukup satu kali tanam dengan sistem pemeliharaan intensif, yang menghasilkan panen berkali-kali.
Program ini, kata Rahmat, juga sangat cocok untuk petani dengan keterbatasan modal.
Untuk mewujudkan hal ini, Rahmat meminta kepada penyuluh pertanian di Kabupaten Solok agar segera menyusun road map yang bisa dijadikan acuan nasional.
“Kita butuh gambaran teknisnya. Silakan penyuluh pertanian di Kabupaten Solok menyusun road map-nya, nanti kita perjuangkan ke kementerian,” tegasnya.
Selain itu, Rahmat juga menyinggung pentingnya perbaikan infrastruktur irigasi di kawasan pertanian.
Salah satu yang dibahas adalah pengelolaan air di lahan seluas 1.200 hektare yang mencakup empat nagari.
Menurutnya, sistem pengairan harus didukung teknologi modern seperti pompa air berbasis solar cell agar lebih hemat energi dan berkelanjutan.
“Irigasi adalah kunci. Kalau bisa kita bantu dengan pompa tenaga surya, biaya operasional petani bisa ditekan jauh lebih rendah,” katanya.
Dalam aspek kelembagaan, Rahmat juga mendorong agar para petani terlibat aktif dalam Koperasi Merah Putih.
Koperasi dinilai dapat memperkuat posisi tawar petani, baik dalam akses permodalan maupun distribusi hasil panen.
“Koperasi harus jadi mitra strategis petani. Koperasi yang sehat akan memudahkan petani dari hulu ke hilir,” ucapnya.
Lebih jauh, Rahmat menekankan pentingnya regenerasi petani, terutama melalui pemberdayaan petani milenial.
Ia menilai, keterlibatan generasi muda di sektor pertanian adalah syarat keberlanjutan ketahanan pangan nasional.
“Kita harus mulai dari sekarang. Tanpa regenerasi, sektor ini bisa stagnan. Anak muda di Solok harus diberi peluang dan dukungan untuk masuk ke pertanian modern, termasuk hortikultura,” jelasnya.
Seluruh aspirasi ini sebelumnya telah disampaikan oleh Wakil Bupati Solok, H. Candra, dalam pertemuan dengan Rahmat Saleh di Jakarta.
Rahmat memastikan akan membawa isu-isu ini ke tingkat pusat dan memperjuangkannya sebagai bagian dari penguatan sektor pangan nasional.
“Kabupaten Solok bisa menjadi pelopor transformasi pertanian berbasis teknologi dan efisiensi. Kita akan kawal ini bersama,” pungkas Rahmat.










