Pessel – Anggota Komisi IV DPR RI, Rahmat Saleh, kembali menegaskan dukungannya terhadap pengembangan gambir di Sumatera Barat (Sumbar), khususnya melalui bantuan bibit, pendataan kelompok tani, serta penguatan sistem pengelolaan komoditas tersebut dari hulu hingga hilir.
Rahmat menyebut gambir sebagai komoditas strategis yang tidak cukup hanya didorong pada tahap budidaya.
Menurutnya, penguatan sektor ini harus menyentuh aspek produksi, pengelolaan, hingga pemasaran agar manfaat ekonominya benar-benar dirasakan petani.
“Kita ingin menyukseskan hilirisasi gambir. Kita perjuangkan bantuan bibit gambir, pendataan kelompok tani, serta pemanfaatan lahan yang masih siap tanam,” katanya saat menyerap aspirasi masyarakat dan kelompok tani di Kampung Sei Nipah, Kecamatan IV Jurai, Minggu (3/5/2026).
Dalam pertemuan itu, Rahmat menilai masih banyak potensi lahan gambir di Pesisir Selatan yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Kondisi tersebut, kata dia, harus dijawab dengan dukungan bibit unggul dan pendampingan teknis agar petani dapat meningkatkan produktivitas sejak tahap awal.
Ia juga menyoroti perlunya pembenahan tata kelola gambir agar komoditas unggulan itu tidak berhenti sebagai bahan mentah.
Menurut Rahmat, pengelolaan yang lebih terintegrasi akan membuka ruang nilai tambah yang lebih besar bagi daerah maupun petani.
Untuk itu, pihaknya telah melibatkan kementerian terkait guna membahas skema pengelolaan gambir yang lebih terarah.
“Terkait pengelolaan gambir, kita sudah membawa menteri. Sekarang prosesnya sedang dibahas, termasuk sistemnya bersama BTPN,” katanya.
Rahmat menegaskan bahwa hilirisasi menjadi langkah penting agar petani tidak terus berada pada posisi paling lemah dalam rantai perdagangan.
Dengan adanya industri pengolahan, petani disebut berpeluang memperoleh margin yang lebih baik dibanding hanya menjual hasil panen dalam bentuk mentah.
“Kita akan selalu memastikan aspirasi petani akan terus diperjuangkan di tingkat pusat agar program bantuan dan pengembangan gambir dapat segera direalisasikan,” katanya.
Komitmen itu juga sejalan dengan sikap Rahmat Saleh dalam mendorong percepatan hilirisasi gambir di Sumbar pada sejumlah forum sebelumnya.
Dalam Rapat Koordinasi Kepala Daerah dan Forkopimda Sumbar bersama Menteri Pertanian pada September 2025, ia menilai Sumbar memiliki posisi sangat penting karena menyumbang sekitar 80 persen ekspor gambir dunia.
Namun, menurut Rahmat, kontribusi besar tersebut belum sepenuhnya dinikmati petani karena komoditas itu masih banyak dipasarkan dalam bentuk mentah.
Ia menilai keberadaan pabrik pengolahan akan menjadi solusi untuk memperkuat posisi tawar petani sekaligus menjaga nilai tambah tetap berada di daerah.
“Kalau ada pabrik pengolahan, petani bisa memperoleh harga yang lebih baik,” ujarnya dalam rapat koordinasi tersebut.
Rahmat menambahkan, pembangunan industri pengolahan gambir bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga strategi jangka panjang agar kesejahteraan petani dan masyarakat Sumbar meningkat.
Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha.
“Ini tidak bisa jalan sendiri. Semua pihak harus bergerak bersama supaya rencana ini cepat terealisasi,” katanya.